
Keberadaan internet di masyarakat kita masih merupakan sarana komunikasi yang mahal, sehingga penggunaan di kalangan terbatas saja. salah satu penyebabnya, jaringan telepon (Dial Up) yang notabene paling mudah diakses masih terasa sangat lambat ini mengakibatkan Indonesia menjadi negara dengan biaya pulsa telepon dan internet paling mahal di dunia.
Di pihak lain berdasarkan survey sebuah lembaga asing, potensi pasar dalam empat tahun terakhir menunjukkan kebutuhan banwidth untuk aplikasi data meningkat empat kali. Kenyataan ini tentunya membuat koneksi internet yang murah dan handal menjadi magnet tersendiri untuk meningkatkan angka pengguna internet dari 230 juta penduduk Indonesia.
Saat ini telah ditemukan solusi yang di masa mendatang diharapkan dapat memenuhi dahaga masyarakat akan informasi melalui internet. PLC (Powe Line Communication) adalah teknologi yang dapat menempatkan sinyal telekomunikasi ke jaringan listrik (tegangan rendah) dari jaringan data eksternal.
Adapun konsepnya dapat dianalogikan bahwa arus listrik mengalir seperti air laut yang menghasilkan gelombang dan buih. Gelombang adalah arusnya, sedangkan buih berupa noisenya. Noise inilah yang dimanfaatkan oleh teknologi PLC untuk menghantarkan sinyal suara dan data. Implikasinya, aliran listrik nantinya tidak hanya dimanfaatkan untuk mengakses internet, namun perkembangannya dapat dimanfaatkan sebagai telepon atau pembacaan meteran, dengan cara menginstal modem PLC yang berfungsi menstranfer sinyal suara dan data.
Sehingga jika si pengguna menginginkan agar dapat berkomunikasi dengan dua jalur sekaligus (internet dan telepon) pada satu jalur kabel listrik, maka dengan dua modem teknologi PLC hal ini dapat terealisasikan.
Aplikasi Teknologi PLC
Sistem tenaga listrik dibagi dalam 3 bagian utama, yaitu Pembangkitan, Transmisi dan Distribusi. Adanya kendala ekonomis, maka dalam proses penyalurannya dilakukan transformasi tegangan oleh transformator, sehingga pada masing-masing bagian memiliki level tegangan yang berbeda-beda. Secara umum sistem tenaga listrik dibagi menjadi 4 bagian, yaitu trafo step up, GI transmisi, GI distribusi dan trafo distribusi.
Pada proses pendistribusian listrik ke titik-titik pelanggan, agar besarnya tegangan sesuai standar peralatan pelanggan (220 v), maka melalui trafo distribusi, tegangan 12 kv diturunkan menjadi 380 v. Jaringan dengan tenaga 20 kv -380 v inilah yang disebut jaringan tegangan rendah. Trafo distribusi di Indonesia biasanya diletakkan tergantung pada tiang-tiang listrik.
Dengan mengetahui diagram, maka tidaklah sulit untuk mengetahui dimana titik tumpang-sari atau “penitipan” sinyal-sinyal telekomunikasi diinjeksikan ke jaringan listrik dari data eksternal (seperti kabel tembaga koaksial, kabel optic fiber, atau bahkan jaringan satelit). Jelaslah bahwa titik injeksinya pada jaringan listrik adalah pada trafo distribusi.
Teknologi PLC cukup menarik digunakan, karena membutuhkan koneksi ke intrastruktur jaringan internet lebih sedikit. Koneksi dilakukan dengan memanfaatkan infrastruktur jaringan listrik yang telah ada. Untuk koneksi ke jaringan internet hanya perlu router PLC utama atau Central Unit (CU) ke internet (ISP). Ini dapat dilakukan baik menggunakan wireless atau menggunakan leased line (saluran kontak). Dari tiap rumah ke router PLC tersebut dapat digunakan modem PLC.
Apabila router PLC di atas dioperasikan oleh perusahaan penyedia jaringan listrik (misal di gardu-gardu listrik sekitar perumahan), dapat merubah perusahaan jaringan listrik juga menjadi penyedia jasa akses internet.
PLC tidak saja akses internet, tapi juga dapat digunakan sebagai perangkat komunikasi suara (VoIP), transmisi video (Video on Demand) ataupun yang lainnya. Kecepatan data transfer yang bias dicapai maksimal sekarang adalah sekitar 4,5 Mbps berarti sekitar 70 kali lebih cepat dari ISDN. Sehingga memungkinkan layanan yang menggabungkan penyediaan listrik, dan penyedia jasa komunikasi. Tidak mengherankan para penyedia jasa akses internet melalui jaringan listrik ini adalah perusaan penyedia layanan listrik.
Di Indonesia teknologi PLC diperkenalkan oleh PT. Indonesia Comnet Plus atau (icon+), anak perusahaan PLN yang didirikan untuk melakukan komersialisasi asset-aset PLN di bidang bisnis telekomunikasi dan informatika. Dengan pertimbangan sangat potensialnya asset-aset jaringan listrik yang dimiliki oleh PLN. Hal ini juga sesuai dengan undang-undang Telekomunikasi nomor 36 tentang Deregulasi Sektor Telekomunikasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar